AUTHENTICITY OF EPIC SERIES

"Ati Lathi Pakarti Nyawiji"


Sekapur Sirih

"Ati Lathi Pakarti Nyawiji"


"Kowe lair saka endi?"
Kalimat pertanyaan sederhana itu berulangkali saya dengar dari Prof. Dr. Damardjati Supadjar, seorang filsuf Jawa yang telah wafat pada awal tahun 2014.

Anda lahir dari mana? Tentu jawaban Anda adalah "lahir dari rahim ibu". Sama. Saya juga menjawab begitu. Tapi itu hanya berlaku saat saya ditanya kali pertama. Selanjutnya jawabanku sudah berbeda. Bukan karena saya tidak konsisten. Tapi karena ternyata maksud pertanyaan sang Filsuf bukan untuk menguji pemahaman biologi. Beliau menuntut saya agar membaca diri. Diriku ini utuh oleh karena adanya unsur-unsur yang menyatu.


Diri Anda yang tampak secara fisik itu memiliki unsur non-fisik. Keutuhan diri Anda itu dibangun dari dua zat yang jelas berbeda namun nyawiji (menyatu). Pemahaman Anda terhadap fakta mutlak kemenyatuan fisik dengan non-fisik di dalam diri Anda sendiri inilah yang disebut kesadaran integritas.


Mata ini mungkin saja dapat memerikan hasil pandangan terhadap liyan berupa keterangan rambutnya klawu, kulitnya mbekisik, hidungnya mblesek, bibirnya ndower. Itu lahir. Tapi mata ini --yang juga bagian dari unsur lahir ini-- tak mungkin mampu memandang dan memerikan keadaan batinnya. Kita hanya dapat membaca tanda-tanda batin lewat ucap lan patrap (ucapan dan tindakan). Kenapa begitu? Karena lair iku utusaning batin. Fisik kita ini hanya pelaksana ekspresi bagi krenteging batin. Hakikat diri kita ini adalah batin (jiwa). Sedangkan lahir (raga) ini adalah peneguh identitas kemanusiaan kita yang ditetapkan fana oleh sang Pencipta.

Maka meski boleh terpesona menawannya rupa raga, janganlah tersihir sehingga mengabaikan perangai jiwa. Meski bagus atau ayu rupa raganya, belum tentu bagus dan ayu wajah jiwanya. Jika caci-maki dan kutukan kemurkaan yang senantiasa diucapkan oleh bibir merah manggisnya, telah jelas ala atine, tan nyawiji ati lan lathine. Bila aniaya dan muslihat yang senantiasa dikerjakan oleh tangan gemulainya, telah jelas ala atine, tan nyawiji ati lan pakartine.


Dalam pangkuan zaman penuh hiasan ini bersolek adalah kebutuhan yang tak berkesudahan. Membuat cantik raga itu mudah dan murah. Tapi membuat cantik jiwa --Anda pasti setuju-- suuuangat suuusah. Dan inilah tantangan integritas!

Biarlah tak berbulumata khatulistiwa. Biarlah tak beralis sulaman henna. Biarkan gigi jongong begini saja, tak perlu dibeheli. Yang penting ucapan dan tindakan selaras dengan kehendak hati.


29 Nopember 2022:
Gito Sosrosasmito